Kereta Cepat yang Tertunda: Ambisi Besar Indonesia Sejak Era Soeharto
Railzy ID 10 Apr 2026 3 menit baca 174 viewsDaftar Isi
BTHunter.Live – Hari ini, masyarakat Indonesia sudah bisa menikmati layanan kereta cepat Jakarta–Bandung yang melaju hingga 350 km/jam. Proyek modern ini menjadi simbol kemajuan transportasi nasional di era Presiden Joko Widodo, bahkan telah mengangkut lebih dari 5,4 juta penumpang sejak beroperasi.
Namun, siapa sangka? Mimpi menghadirkan kereta cepat di Indonesia ternyata sudah dirancang jauh sebelumnya—bahkan sejak era Presiden Soeharto.
Visi Besar di Awal 1990-an
Memasuki periode Repelita V dan PJP II, pemerintah mulai melirik teknologi transportasi masa depan. Dalam dokumen Pengembangan Kereta Api di Indonesia Menyongsong Abad XXI (Perumka, 1990), disebutkan bahwa Indonesia saat itu memiliki kondisi yang “ideal” untuk mengembangkan kereta cepat.
Beberapa faktor utama pendorongnya:
- Pertumbuhan ekonomi (PDB) yang mulai sejajar dengan Jepang saat merintis Shinkansen
- Kepadatan tinggi di Pulau Jawa
- Pertumbuhan transportasi mencapai 5% per tahun
Dari sinilah lahir sebuah rencana ambisius: jalur kereta cepat Jakarta–Surabaya sebagai tahap awal.
Rute Ambisius: Dari Ujung ke Ujung Nusantara
Bayangan pemerintah saat itu tidak main-main. Proyek ini dirancang sebagai tulang punggung transportasi nasional:
- Tahap awal: Jakarta – Cirebon – Semarang – Surabaya
- Pengembangan: diperpanjang ke Merak dan Banyuwangi
- Visi jangka panjang: tersambung hingga Sumatra melalui jalur pantai timur
Kereta akan melaju di jalur baru dengan lebar rel standar internasional (1.435 mm) dan menggunakan listrik 25 kV AC—teknologi yang bahkan hingga kini masih digunakan pada kereta cepat modern.
Teknologi Tinggi di Zamannya
Menariknya, spesifikasi teknis yang dirancang pada 1990 sudah sangat maju:
- Kecepatan operasional: >300 km/jam
- Sistem traksi: AC 3 fasa dengan VVVF-GTO
- Pantograf: single arm (Z-type)
- Sistem rem: kombinasi disc brake, regeneratif, dan eddy current
- Bogie: bolsterless dengan suspensi modern
- Kabin: aerodinamis dan kedap udara
Konsep rangkaiannya pun menggunakan sistem push-pull, mirip dengan kereta cepat seperti:
- TGV (Train à Grande Vitesse) Prancis
- ICE (InterCity Express) Jerman
- ETR (Elettro Treno Rapido) di Italia
Ini menunjukkan bahwa Indonesia saat itu tidak sekadar “ikut tren”, tetapi benar-benar mencoba mengadopsi standar global.
Operasional yang Sudah Dihitung Matang
Rencana operasionalnya pun sudah detail:
- Frekuensi perjalanan: setiap 2 jam
- Waktu tempuh: sekitar 3 jam (Jakarta–Surabaya)
- Kebutuhan sarana: 6 trainset + 2 cadangan
Selain itu, stasiun-stasiun akan terintegrasi dengan jalur eksisting. Kota-kota seperti Purwokerto, Yogyakarta, Solo, hingga Banyuwangi dirancang menjadi feeder utama.
Keselamatan Jadi Prioritas
Untuk mendukung kecepatan tinggi, sistem keselamatan dirancang sangat canggih:
- Sistem kendali terpusat berbasis komputer
- Automatic Train Stop (ATS)
- Defect Diagnostic System
- Komunikasi radio terintegrasi
Pendekatan ini bertujuan meminimalkan human error—konsep yang kini menjadi standar dalam sistem perkeretaapian modern.
Mengapa Proyek Ini Gagal?
Meski terlihat matang, proyek ini akhirnya tidak pernah terwujud.
Salah satu momen penting adalah ketika perusahaan kereta cepat Prancis, SNCF (operator TGV), melakukan studi di Indonesia. Hasilnya?
Proyek dinilai tidak menguntungkan.
Beberapa kendala utama:
- Harus membangun lebih dari 23 terowongan
- Kondisi tanah yang kurang stabil
- Biaya besar (sekitar Rp 6 triliun pada tahun 1990)
- Waktu pembangunan hingga 15 tahun
Akhirnya, pemerintah memilih fokus pada proyek lain yang lebih realistis saat itu.
Fokus Beralih ke Infrastruktur Dasar
Alih-alih kereta cepat, pemerintah era Soeharto memprioritaskan:
- Jalur ganda Cikampek–Cirebon
- Rehabilitasi jembatan lintas utara Jawa
- Angkutan barang (semen, peti kemas)
- Pembangunan jalur Nambo–Tanjung Priok
Langkah ini dianggap lebih mendesak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional saat itu.
Mimpi yang Akhirnya Terwujud
Meski sempat terkubur selama puluhan tahun, mimpi kereta cepat Indonesia akhirnya bangkit kembali di era modern.
Kini, proyek yang dulu hanya menjadi wacana telah menjadi kenyataan—meski dalam skala yang lebih kecil, yaitu Jakarta–Bandung.
Namun satu hal yang pasti:
Indonesia sebenarnya sudah “siap bermimpi besar” sejak lebih dari 30 tahun lalu.
Lihat juga galeri foto kereta api Indonesia di BTHunter.
Lihat juga tracking kereta api.